Humas Penari Lintas Community (PLC) AGAM, Minggu, 7 Desember 2025 – Danau Maninjau yang biasanya tenang memantulkan bayangan langit biru, hari ini tampak sedikit berbeda. Di balik keindahannya yang melegenda, tersimpan duka yang mendalam di Nagari Sungai Batang. Bencana alam yang melanda kawasan ini beberapa waktu lalu telah menyisakan jejak kesulitan bagi warga setempat. Namun, di tengah kabut duka tersebut, secercah cahaya harapan hadir tepat pada hari ini, Minggu, 7 Desember 2025.
Ketika sebagian besar orang menikmati hari libur Minggu dengan bersantai, dua komunitas besar dari Lubuk Basung, yakni PLC (Penari Lintas Community) Lubuk Basung dan Sitawa Community, memilih jalan yang berbeda. Mereka menyatukan langkah, menembus jalur menuju Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, untuk satu tujuan mulia: mengantarkan amanah persaudaraan kepada saudara-saudara kita yang terdampak bencana.
Pagi itu, rombongan dari PLC Lubuk Basung dan Sitawa Community bergerak beriringan. Tidak sekadar membawa badan, mereka membawa logistik yang telah dipersiapkan dengan matang. Misi kemanusiaan ini bukan tentang siapa yang memberi paling banyak, melainkan tentang kepedulian yang tumbuh subur di tanah Agam, di mana rasa badunsanak (bersaudara) dijunjung tinggi.
Setibanya di lokasi, rombongan disambut langsung oleh Perangkat Nagari Sungai Batang Maninjau. Suasana haru tak terelakkan. Di wajah-wajah perangkat nagari dan warga, tersirat rasa lega bahwa mereka tidak sendirian menghadapi cobaan ini. Bantuan yang dibawa hari ini bukan sekadar barang, melainkan pesan kuat bahwa Lubuk Basung ada untuk Sungai Batang.
Bantuan yang disalurkan hari ini difokuskan pada kebutuhan pangan mendesak. Di tengah situasi pascabencana, akses terhadap bahan pokok seringkali menjadi kendala utama. Menyadari hal tersebut, PLC Lubuk Basung dan Sitawa Community telah mengemas ratusan paket sembako dengan rapi dalam kantong plastik yang siap distribusi.
Setiap paket yang diserahkan berisi item-item krusial untuk kebutuhan dapur keluarga selama beberapa hari ke depan, yang terdiri dari:
- Beras 5 Kg: Sebagai makanan pokok untuk memastikan asap dapur tetap mengebul.
- Gula: Pemanis di tengah pahitnya musibah.
- Sabun: Untuk menjaga kebersihan diri yang krusial pascabencana.
- Mie Instan: Makanan praktis yang sangat dibutuhkan dalam kondisi darurat.
- Minyak Goreng: Kebutuhan dasar untuk mengolah makanan.
- Teh: Penghangat tubuh di tengah udara Maninjau yang dingin.
- Biskuit: Asupan energi cepat, terutama bagi anak-anak.
Distribusi dilakukan secara transparan dan tepat sasaran. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada Perangkat Nagari, mengantarkan ke rumah-rumah warga yang terdampak. Melihat senyum tipis yang terukir di wajah para penerima manfaat saat menerima kantong-kantong tersebut adalah bayaran termahal bagi lelah rombongan hari ini.




Di sela-sela kegiatan distribusi, Dodi Rustam, selaku Ketua Sitawa Community, menyampaikan pesan mendalam. Dengan mata yang menatap langsung ke arah pemukiman warga, ia mengungkapkan harapannya.
“Kami dari Sitawa Community dan rekan-rekan PLC hadir di sini karena panggilan hati. Harapan terbesar kami, tentu saja, semoga bencana ini cepat berlalu. Semoga warga Sungai Batang diberikan ketabahan dan kekuatan untuk bangkit kembali. Ini adalah sedikit tanda cinta kami, semoga bisa meringankan beban,” ujar Dodi Rustam dengan nada penuh empati.
Namun, ada catatan penting yang ditemukan di lapangan oleh tim PLC Lubuk Basung. Berdasarkan observasi langsung dan interaksi dengan warga, tim PLC menemukan fakta krusial mengenai kebutuhan yang belum sepenuhnya terpenuhi. Perwakilan PLC Lubuk Basung menyampaikan rekomendasi penting bagi donatur lain yang mungkin akan menyusul.
“Kami melihat kondisi di sini secara langsung. Jika boleh menyarankan bagi kawan-kawan komunitas lain atau instansi yang akan menyalurkan bantuan ke titik ini, mohon diarahkan atau diutamakan bantuan Air Bersih untuk dikonsumsi. Saat ini, itu yang tampaknya sangat krusial selain sembako,” ungkap Om Pajok selalu ketua PLC Lubuk Basung.
Hal ini menjadi sorotan karena pascabencana, sumber air bersih seringkali tercemar atau infrastruktur perpipaan mengalami kerusakan, sehingga warga kesulitan mendapatkan air minum yang layak.
Mewakili masyarakat yang terdampak, Wali Jorong Sungai Batang menyambut kedatangan rombongan dengan tangan terbuka dan rasa syukur yang tak terhingga. Dalam sambutannya yang sederhana namun menyentuh hati, ia menegaskan bahwa dalam kondisi seperti ini, setiap butir beras dan setiap tetes minyak sangatlah berarti.
“Kami atas nama warga Jorong Sungai Batang mengucapkan ribuan terima kasih. Apapun bantuan yang diberikan, dalam bentuk apapun, akan kami terima dengan lapang dada. Kami tidak melihat nilainya, tapi kami melihat kepeduliannya. Kami juga masih sangat berharap dengan adanya bantuan-bantuan lainnya menyusul, karena pemulihan ini butuh waktu,” tutur Wali Jorong dengan suara bergetar menahan haru.
Pernyataan Wali Jorong ini adalah sinyal bagi kita semua. Bahwa meskipun bantuan hari ini telah mendarat, perjalanan pemulihan Sungai Batang masih panjang. Kebutuhan akan terus ada hingga kehidupan warga kembali normal sepenuhnya.
Kegiatan yang berlangsung pada hari Minggu ini diakhiri dengan doa bersama dan komitmen untuk terus memantau perkembangan saudara-saudara di Maninjau. Aksi sosial PLC Lubuk Basung dan Sitawa Community hari ini mengajarkan kita satu hal: bahwa bencana boleh saja merenggut harta benda, namun ia tidak akan pernah bisa merenggut rasa kemanusiaan kita.
Sungai Batang Maninjau adalah bagian dari tubuh Agam. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya. Semoga bantuan sembako ini menjadi energi awal untuk bangkit. Dan semoga, seruan akan kebutuhan air bersih segera terjawab oleh para dermawan lainnya yang akan datang.
Mari kita doakan agar Sungai Batang Maninjau, Agam, segera pulih. Langit akan kembali cerah, dan Danau Maninjau akan kembali memantulkan senyum warganya yang bahagia.
Badunsanak kito di ranah Minang, sakiok sakik, sasanang sanang.
Author : Asrizal*
