Humas PLC Pusat : 25 November 2025 – Awan kelabu menyelimuti bumi Tapanuli Selatan. Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor hebat telah menerjang beberapa wilayah di kabupaten ini, meninggalkan jejak kehancuran, duka mendalam, dan trauma bagi ribuan penduduknya.
Peristiwa nahas yang terjadi pada (24 – 25 November 2025) sampai saat ini masih suasana cuaca ekstrim, ini bukan hanya merusak infrastruktur dan harta benda, tetapi juga menguji ketabahan serta semangat kebersamaan masyarakat di tanah Batak Angkola ini.Intensitas curah hujan yang tinggi selama berjam-jam menjadi pemicu utama serangkaian bencana ini.
Sungai-sungai meluap tak terbendung, mengubah permukiman padat dan lahan pertanian menjadi lautan air keruh yang menyeret apa saja yang dilewatinya. Di saat yang bersamaan, lereng-lereng bukit yang jenuh air tak sanggup lagi menahan beban, lalu runtuh menciptakan longsoran tanah raksasa yang menimbun jalan, rumah, bahkan memutus akses vital antar wilayah.Enam Kecamatan Berjuang Melawan Kepungan Air dan Tanah
Berdasarkan laporan awal dan informasi yang berhasil di dapat baik melalui media sosial Facebook, Instagram dan share WAG kami himpun, setidaknya enam kecamatan di Tapanuli Selatan dilaporkan mengalami dampak paling parah dari bencana hidrometeorologi ini. Masing-masing wilayah memiliki kisah pilunya sendiri, namun semuanya bersatu dalam kepahitan akibat kehilangan dan kerusakan.
Pertama, Kecamatan Batang Toru menjadi salah satu sorotan utama. Di kecamatan ini, khususnya di Desa Garoga, banjir bandang dilaporkan menerjang dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rumah-rumah terendam hingga atap, memaksa warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman dengan tergesa-gesa. Lumpur tebal kini menyelimuti desa, meninggalkan puing-puing dan kesedihan yang mendalam bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian.
Tak jauh berbeda, Kecamatan Angkola juga menghadapi situasi genting. Akses jalan dan jembatan di beberapa titik dilaporkan terputus, mengisolasi beberapa desa dan menyulitkan upaya penyaluran bantuan. Warga di Angkola Sangkunur kini harus berjuang dengan terbatasnya pasokan logistik dan kebutuhan dasar, sementara menunggu normalisasi akses.
Selanjutnya, Kecamatan Marancar turut menjadi daerah yang tak luput dari amukan alam. Potensi longsor di wilayah perbukitan Marancar memang selalu menjadi ancaman, dan kali ini ancaman itu menjadi kenyataan. Sejumlah titik longsor telah menimbun ruas jalan, bahkan dilaporkan ada beberapa rumah yang tertimbun material tanah, meskipun jumlah pasti dan kondisi korban masih dalam pendataan intensif. Upaya evakuasi dan pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan.
Kecamatan Muara Batang Toru yang terletak di pesisir barat Tapanuli Selatan juga tidak terhindar dari dampak banjir. Luapan air dari hulu sungai telah mencapai wilayah ini, merendam permukiman dan lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar warganya. Kerugian ekonomi akibat rusaknya sawah dan tambak sangat dirasakan oleh masyarakat setempat.
Di bagian lain, Kecamatan Sipirok, jalur jalan lintas Sipirok Padang Sidempuan, juga mengalami dampaknya. Meskipun tidak separah daerah lain, laporan mengenai banjir di beberapa kelurahan dan terputusnya akses jalan nasional Padangsidimpuan menuju Kota Medan via Tarutung, tepatnya di Desa Marsada dan Desa Aek Latong, Kecamatan Sipirok, mengindikasikan betapa luasnya cakupan bencana kali ini. Terputusnya jalur utama ini tentu saja menghambat mobilitas dan distribusi logistik ke daerah lain.Solidaritas dan Harapan di Tengah Cobaan
Melihat skala bencana yang begitu besar, ribuan jiwa di Tapanuli Selatan kini berada dalam kondisi rentan. Mereka membutuhkan uluran tangan dan perhatian serius dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, lembaga sosial, hingga seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat bersinergi untuk memberikan bantuan yang cepat dan tepat sasaran. Bantuan mendesak meliputi pangan, air bersih, selimut, pakaian, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya bagi para pengungsi.
Di luar kebutuhan materi, dukungan psikologis juga tak kalah penting. Trauma akibat kehilangan rumah, harta benda, bahkan orang terkasih, dapat memberikan dampak jangka panjang bagi para penyintas. Pendampingan psikososial diperlukan untuk membantu mereka bangkit dari keterpurukan.Pesan Simpati dan Doa Bersama
Dari lubuk hati yang paling dalam, kita semua menyampaikan duka cita yang mendalam bagi seluruh masyarakat Tapanuli Selatan yang terdampak bencana ini. Semoga saudara-saudari kita di Kecamatan Batang Toru, Angkola Sangkunur, Marancar, Muara Batang Toru, Sipirok, dan kota lainnya di Sibolga dan Tapanuli Selatan diberikan ketabahan dan kekuatan iman untuk menghadapi cobaan berat ini.
Kita berdoa semoga proses evakuasi dan pencarian korban dapat berjalan lancar. Semoga bantuan kemanusiaan yang berdatangan dapat segera tersalurkan dan diterima oleh mereka yang membutuhkan. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa melindungi dan memberikan ketabahan kepada seluruh masyarakat Tapanuli Selatan, serta mempercepat proses pemulihan agar kedamaian dan kehidupan normal dapat kembali terwujud di Ranah Angkola yang kita cintai ini. Solidaritas adalah kunci, dan bersama-sama, kita bisa melewati masa sulit ini.#)
