Humas Penari Lintas Community (PLC): 30 November 2025. Duka yang menyelimuti Pulau Sumatera belum beranjak. Rentetan bencana hidrometeorologi yang menghantam wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara pada rentang waktu Selasa, 25 November hingga Sabtu, 29 November 2025, telah meninggalkan jejak kepedihan yang mendalam.
Kabar tentang banjir bandang yang menghanyutkan rumah dan tanah longsor yang memutus akses jalan bukan sekadar berita di layar kaca, melainkan jeritan hati saudara-saudara kita yang kini menanti uluran tangan.
Namun, di tengah kelabu awan duka tersebut, pelita harapan kembali dinyalakan. Setelah sebelumnya rekan-rekan dari Solok Selatan bergerak, kini giliran PLC Region Perawang yang merapatkan barisan.
Menjawab instruksi respon cepat dari pengurus pusat PLC secara Nasional, PLC Perawang menggelar aksi susulan yang tak kalah heroiknya, membuktikan bahwa jarak geografis tidak mampu memutus ikatan persaudaraan komunitas ini.
Di Kota Industri Perawang, semangat kemanusiaan itu berdenyut kencang. Ketua PLC Region Perawang menegaskan bahwa aksi turun ke jalan ini bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan sebuah manifestasi dari identitas PLC itu sendiri.
Ketua PLC Perawang menyampaikan poin krusial yang menjadi landasan pergerakan hari ini: “Giat ini adalah wujud nyata dari komitmen kita untuk melanjutkan tradisi luhur PLC. Kita selalu berpartisipasi, selalu hadir, dan selalu tanggap. Ketika saudara kita di Aceh, Sumbar, dan Sumut tertimpa musibah, diam bukanlah pilihan. Tradisi ‘PLC Peduli’ adalah harga mati yang harus kita jaga. Hari ini, Perawang bergerak untuk membuktikan bahwa kita ada untuk sesama.” pesan Endrianto.
Pesan ini menjadi bahan bakar bagi seluruh anggota PLC Perawang yang terlibat. Bagi mereka, menari adalah hobi yang menyatukan, namun berbagi adalah panggilan jiwa yang menguatkan. Perawang Bergerak: Satu Rasa, Satu Jiwa Sejak pagi hari, atribut kebesaran Penari Lintas Community telah mewarnai titik-titik strategis di Perawang. Kota yang dikenal dengan denyut industrinya yang sibuk ini, sejenak menoleh untuk melihat aksi para pemuda-pemudi yang dengan rendah hati menadahkan kotak donasi demi saudara yang jauh di mata.
Aksi penggalangan dana atau Open Donasi ini dilakukan dengan menyisir berbagai lokasi keramaian. Para anggota dengan santun menyapa masyarakat Perawang, pengguna jalan, hingga para pedagang, mengajak mereka untuk menyisihkan sedikit rezeki.


Pemandangan ini sangat menyentuh. Di satu sisi, kita melihat betapa rapuhnya kehidupan saat bencana melanda saudara kita di Sumbar, Aceh, dan Sumut pada pekan terakhir November ini. Namun di sisi lain, di jalanan Perawang, kita melihat betapa kuatnya pondasi kemanusiaan bangsa ini ketika digerakkan oleh komunitas yang tepat. Respon masyarakat Perawang pun sangat positif; lembaran rupiah yang masuk ke dalam kotak donasi adalah bukti kepercayaan publik terhadap integritas PLC dalam menyalurkan bantuan.
Estafet Kebaikan Nasional, Gerakan yang dilakukan oleh PLC Perawang ini memiliki makna strategis. Ini adalah sinyal kuat kepada seluruh region PLC di Indonesia bahwa “alarm” kemanusiaan masih berbunyi nyaring.
Jika kemarin Solok Selatan telah membuka gerbang kepedulian, hari ini Perawang memperlebar jalan tersebut. Ini adalah efek domino kebaikan yang diharapkan oleh pengurus pusat.
PLC ingin memastikan bahwa bantuan yang terkumpul tidak hanya sekadar formalitas, tetapi benar-benar signifikan untuk membantu masa pemulihan pasca-bencana. Dana yang terkumpul dari aksi jalanan di Perawang ini nantinya akan diakumulasikan dan disalurkan langsung ke titik-titik terparah di daerah terdampak. Fokus bantuan tetap pada kebutuhan mendesak para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal akibat terjangan banjir dan longsoran tanah yang terjadi beberapa hari lalu.
Di sela-sela aksi penggalangan dana, terselip doa-doa tulus dari para anggota PLC Perawang. Mereka menyadari bahwa uang bisa dicari, namun nyawa dan rasa aman adalah hal yang tak ternilai.
“Semoga sedikit peluh kami di jalanan Perawang ini bisa menjadi penyejuk bagi saudara kami yang sedang kepanasan di tenda pengungsian, dan menjadi penghangat bagi mereka yang kedinginan diterpa banjir,” ujar salah satu Endrianto sekaligus koordinator lapangan PLC Perawang dengan mata berkaca-kaca.
Aksi susulan ini juga membawa pesan moral kepada masyarakat luas: Bahwa bencana alam adalah ujian kesabaran bagi korban, dan ujian kepedulian bagi kita yang selamat. PLC Perawang telah memilih untuk lulus dalam ujian kepedulian tersebut.
Teruslah Menari dalam Kebaikan
Kepada seluruh anggota PLC di mana pun berada, mari jadikan semangat rekan-rekan di Perawang dan Solok Selatan sebagai standar moral kita. Bencana rentang tanggal 25-29 November 2025 ini mungkin telah berlalu tanggalnya, namun dampak kerusakannya masih nyata di depan mata.
Terima kasih kepada Ketua dan seluruh jajaran pengurus serta anggota PLC Region Perawang. Kalian telah menjaga marwah komunitas ini tetap harum. Kalian membuktikan bahwa penari tidak hanya elok dalam gerak tubuh, tetapi juga indah dalam gerak hati.
Mari kita tunggu region-region selanjutnya untuk menyambut tongkat estafet ini. Hingga duka di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara berganti menjadi senyum, PLC tidak akan berhenti bergerak.
Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan!
PLC Perawang: Bergerak Bersama, Peduli Sesama.
